Skip to main content

Kenangan Terindah Bersama Ibu

Hari IbuHari tengah terik-teriknya. Matahari panas menyengat. Syafriboy melangkah memasuki halaman rumahnya. Begitu masuk di dalam rumah, dia merasa lega karena tidak kepanasan lagi. Namun, hari itu, meski dia baru saja mendapat nilai bagus di sekolah tadi, hatinya tetap terasa hampa.

Ya, begitulah setiap hari yang dialaminya. Karena tidak ada lagi sosok ibu yang membukakan pintu rumah saat dia pulang sekolah. Tidak ada lagi ibu yang cerewet menyuruhnya makan siang. Tidak ada lagi ibu yang memasakkan makanan kegemarannya.

”Ibuku sudah meninggalkan aku sejak aku kelas 5 SD,” cerita cowok kelahiran Mei, 18 tahun lalu yang kini kelas tiga SMA Al Huda Pekanbaru ini.

Dia mengaku, awalnya sangat sulit menerima kenyataan jika sang bunda telah meninggalkannya dipanggil Yang Kuasa. Apalagi saat itu, dia masih sangat membutuhkan kasih sayang ibu.

”Karena itulah, meski aku hanya 13 tahun bisa bersama ibuku, setiap detik bisa bersama ibu dalah momen spesial buat aku,” katanya dengan sorot mata sedih.

Safriboy bercerita, meski pun ibunya sudah meninggalkannya bertahun-tahun lalu, hingga kini dia masih ingat belai lembut ibunya. Terutama saat dia sakit.

”Yang paling tidak bisa aku lupain adalah saat aku sakit. Ibu adalah satu-satunya orang yang berada di sampingku. Ibu terlihat betul-betul cemas dan takut kalau aku kenapa-kenapa. Ibu juga berusaha untuk memberikan pertolongan sampai ibu kemudian membawaku buru-buru ke rumah sakit,” ceritanya. Saat bercerita ini, mata Syafriboy benar-benar basah.

Kemudian, dengan suara tertahan dia bercerita, emang nggak enak banget kalo ibu udah nggak bersama kita. Dia sempet ngerasa jadi orang yang labil, hidup terasa nggak ada warna. Dan semuanya terasa susah aja.

”Kadang aku merasa kekanak-kanakan. Saat aku sadar ibu udah nggak ada, bawaannya pengen nangis terus,” katanya. Yang bisa dilakukannya saat ini, yakni mendoakan ibunya.
”Aku mendoakan ibu dalam setiap doaku. Semoga ibu disayangi Allah seperti ibu menyayangi aku,” katanya sendu.

Rindu Pelukan Ibu
Kesedihan yang sama juga dialami Ade putra, siswa kelas XII IPA SMA IT Mutiara, Duri. Cowok kalem ini juga udah ditinggal sang bunda sejak beberapa tahun lalu.

”Aku emang sedih banget. Dan sampe sekarang masih sedih dan sedih,” katanya.
Dia bilang, setiap kenangan bersama ibunya semasa hidup disimpannya dalam hati. Namun kenangan yang paling diingatnya, yakni saat doski dan ibunya melakukan perjalanan ke kampung halaman ibu.

”Selama perjalanan menggunakan mobil itu, aku betul-betul ngerasa kalo ibu selalu sayang sama aku. Semua kebutuhan aku dipenuhi oleh ibu. Saat aku lelah dan tertidur pun, aku dipeluk ibu. Aku benar-benar rindu pelukan ibu,” katanya sedih.
Dia bilang, ibu, dulu, sekarang dan pada masa yang akan datang, akan tetap menjadi sosok paling berarti dalam hidupnya. Dia bilang, hanya ibunya yang bisa menenangkan hatinya di kala dia sedih.

”Ibuku selalu punya cara untuk menegurku. Aku bener-bener ngerasa kehilangan segalanya saat ibuku dipanggil Yang Maha Esa. Tapi aku pengen buktikan, kalo aku bisa membuat ibu bahagia dengan menjadi anak yang baik,” ujarnya.
Ya, sosok ibu dengan segala kelembutan maupun keterbatasannya adalah sosok yang agung. Berkat ibulah kita bisa menjadi siapa saja.

”Aku berpesan bagi temen-temen yang beruntung masih didampingi ibu sampe sekarang, bahagiakanlah ibu kita semaksimal mungkin,” ujar Ade lagi. Jadi, tunggu apa lagi?

NB: Grafis Diatas Dilindungi Hak Cipta
(Enda-CCMD/dri)

Comments

Paling Banyak Dibaca