Skip to main content

Novel Love, Hate & Pocus - Perpaduan Cinta, Benci, dan Sihir

Novel Love, Hate & Pocus Kembali untuk kesekian kalinya Gramedia menerbitkan novel metropopnya. Kini giliran Karla M Nashar dengan novelnya berjudul Love, Hate & Pocus, novel yang terbit perdana Mei 2008 dan memasuki cetakan kedua pada Agustus 2008. Sebelumnya Lala, sapaan akrap sang penulis, telah sukses dengan novelnya terdahulu, yaitu Bellamore.


Dalam novelnya kali ini, Lala membuat cerita agak berbeda dengan kebanyakan novel Indonesia lainnya. Lala menjadikan cinta, benci, dan sihir sebagai menu utama dalam tulisannya. Ceritanya bermula ketika bertemunya Gadis dengan Troy. Hate at first sight. Itulah definisi yang tepat untuk menggambarkan dua orang penting itu, yang sama-sama bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang farmasi.


Gadis dan Troy adalah partner kerja yang dinamis-sedinamis gejolak permusuhan yang terus meletup di antara mereka berdua. Sang pimpinan pun, kadang tersulut emosinya melihat pertengkaran mereka berdua, yang lebih mirip disebut nafsu saling membunuh. Namun, dari sekian banyak kebencian dan perbedaan antara Gadis dan Troy, ternyata ada satu persamaan mereka, yaitu sama-sama nggak percaya yang namanya hocus-pocus, ramal-meramal, paranormal, astrologi, kartu tarot, feng shui, atau apa pun sebutannya yang berhubungan dengan dunia pernujuman. Maka tak heran, ketika perusahaan mereka mendatangkan seorang wanita gipsi tua dari Eropa untuk memeriahkan ulang tahun emas perusahaan dalam acara Gypsy Sacred Heritage Musical Show, mereka berdua tertawa keras di tengah pertunjukan yang menandakan mereka menyepelekan si wanita gipsi. Mereka tidak tahu, apa yang mereka lakukan berakibat fatal.


Saat terbangun pada suatu Ahad pagi yang cerah, Gadis dan Troy mendapati diri mereka berada di ranjang yang sama plus cincin kawin yang melingkari jari manis masing-masing, serta sepotong memori kabur tentang pernikahan yang mereka lakukan tiga belas hari yang lalu. Bagaimana kisah selanjutnya? Akankah cinta mulai muncul setelah itu? Mungkinkah si gipsi misterius yang didatangkan dari Eropa pada pesta ulang tahun kantor mereka yang sudah menciptakan kegilaan ini? Temukan jawabannya di novel setebal 264 halaman ini.

Seru dan menarik. Begitu tanggapan yang akan diberikan, jika kamu telah membaca novel ini. Jarang sekali, intrik percintaan dan kebencian dibumbui dengan sihir. Bahasa yang digunakan mengalir begitu saja hingga membuat pembaca semakin menikmati novel ini, walaupun penggunaan istilah asing cukup banyak. Ending yang diberikan pun cukup mengejutkan. Yah, mungkin bagi kamu yang suka dengan kejutan-kejutan dalam pemecahan konflik, agaknya novel ini pantas menempati rak buku kamu.***

Comments

Paling Banyak Dibaca