Skip to main content

Sang Pencetus Ide Film Telatah Wak Atan

Kemunculan buku dan film Wak Atan merupakan buah karya jurnalis senior, dan seniman Musthamir Thalib.

Musthamir Thalib lahir di Igal, Indragiri Hilir, Riau, 5 Agustus 1963. Memperoleh gelar sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unri, Pekanbaru, 1989.
Pendidikan informal di Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS), Jakarta, 1993. Ia seorang pekerja seni, mantan wartawan Harian Riau Pos, dan dosen luar biasa di IAIN Suska, Fakultas Sastra Unilak, FKIP UIR Pekanbaru.

Pernah memenangkan sejumlah lomba karya tulis dan penerima Anugerah Jurnalistik Adinegoro 1998 dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat. Dua kali meliput Festival Tari Rakyat se-Dunia yang diselenggarakan Association Culturelle E’changes Internationaux di Prancis 1995 dan Spanyol 1996.

Karya-karya sang pencipta pasangan tokoh komedi Melayu Wak Atan dan Mak Joyah ini, selain dimuat di berbagai media massa, juga terhimpun dalam antologi cerpen dan puisi, serta buku tunggal, di antaranya Titian Laut III, antologi cerpen dan puisi Dialog Utara III (1991); Teh Hangat Sumirah, antologi cerpen dan puisi empat pengarang Riau (1992); Melancong Bumi Lancang Kuning – novel wisata, buku tunggal (1993); Seloroh Gaya Melayu, buku tunggal tulisan khas rubrik Harian Riau Pos (1993); Pertemuan Kedua, antologi cerpen dan puisi Sijori-Singapura-Johor-Riau (1995); Hang Tuah, cerita rakyat Melayu (Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Adicita Karya Nusa, 2004); dan Hang Tuah Kesatria Melayu, cerita bergambar yang ditulisnya bersama Mahyudin Al Mudra (Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Adicita Karya Nusa, 2004).

Dalam film ini, Musthamir ingin menyampaikan bahwa jangan sampai latah ataupun ‘gila’ dengan keadaan carut-marut perekonomian yang terjadi saat ini. ”Sekarang ini, banyak sekali orang yang ‘gila’ untuk mendapatkan jabatan, proyek, harta dan lain sebagainya. Makanya pada tahun ini, saya, mengeluarkan tokoh orang gila. Ini sebagai simbol keadaan orang Melayu saat ini” ungkap Musthamir, saat berbincang hangat dengan xpresi.

Selain itu, dalam filmnya ini Musthamir ingin menyampaikan secara halus akan kebobrokan moral Negeri. Namun, kebobrokan dan carut marut negeri ini tak mesti diselesaikan dengan cara kekerasan. ”Yah, ada pepatah yang mengatakan, kalau kita ‘mencubit’ orang yang dicubit pasti kesakitan. Makanya, saya lebih senang mengingatkan orang dengan cara ‘menggelitik’ atau bahasa kerennya ‘disentil’ dengan karya film Wak Atan yang saya ciptakan ini” katanya lagi.

Ia berharap, dengan sinetron komedi, Wak Atan ini, ia bisa mengingatkan orang banyak, agar tidak ikut gila-gilaan dengan keadaan ekonomi, politik, sosial dan budaya yang tumpang tindih seperti sekarang ini. “Yang intinya nggak usah ikut-ikutan gila lah dengan keadaan saat ini. Jalani saja lah hidup ini secara alami” pesan Musthamir melalui Xpresi.

Comments

Paling Banyak Dibaca