Skip to main content

Ternyata Dia Abang Temanku

Hari pertama…
Kegiatan PPS (Program Pengenalan Sekolah) di SMA baruku membuat kami harus berangkat pagi-pagi setelah subuh. Persyaratan yang aneh-aneh harus kami bawa dan kami kekenakan. Kata ketua panitia saat perkenalan kami selama PPS harus memakai topi kerucut seperti nenek sihir dalam dunia dongeng. Apalagi harus ditambah dengan membawa sepatu lidi. Bayangkan benar-benar seperti nenek sihir yang sedang memakai sapu terbangnya. Oh My God.

Tepat pukul 7 kami harus berkumpul di lapangan upacara untuk mendengarkan pengarahan dari pimpinan sekolah.

”Jadikan PPS ini ajang untuk mengenal sekolah dengan baik, jangan sampai kalian setelah PPS tidak mengenal guru-guru di sini,” Kepala Sekolah melanjutkan arahannya dengan meminta kami untuk mengenal satu sama lain. Setelah parade sambutan berlangsung kini giliran Ketua Panitia PPS memberikan sambutan.

Ketua Panitia, yang dikenal sebagai Rian meminta kami untuk berkenalan selama 5 menit. Melihat kami tidak bereaksi dengan cepat beliau setengah berteriak,
”Ikan Sepat, Ikan Gabus, Ikan Lele, lebih cepat lebih bagus tidak bertele-tele,” beliau mengeluarkan jurus pantunnya dengan wajah galak karena melihat kami lelet seperti siput.


Beberapa peserta sempat bergumam,” Gariiiingggg...”
Aku mendekati teman baru di sebelahku,” Pak Maman beli kedondong, kenalan dong,” aku pun tertular garingnya ketua panitia.
Teman sebelahku mengulurkan tangannya dan menyebut sebuah nama,” Rani Putri Riau.” Aku pun menyebutkan namaku,” Tari Putri Solo, he he ndak ding hanya Tari aja, habis namamu pakai Putri Riau jadi ingat ajang pemilihan Putri Indonesia he he,” jawabku sekenanya.

Instruksi berikutnya kami diminta untuk berkumpul membagi kelompok-kelompok kecil, mengadakan latihan PBB (bukan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Persatuan Babu-Babu, tapi satu pekerjaan yang paling tidak kusuka karena ketidakmampuanku yaitu Peraturan Baris-Berbaris). Bisa kubayangkan apa yang akan terjadi nantinya. Ketika kami diminta untuk melakukan gerakan ditempat, aku masih bisa mengikuti temanku yang ada di depanku, nampaknya beliau mahir dalam berbaris. Ketika mulai gerakan dipercepat,
”Balik kiriiii gerakk” perintah ketua panitia. Dengan pede nya aku melakukan gerakan berputar 180 derajat seperti balik kanan yang sebelumnya diinstruksikan, tapi apa yang terjadi...Oh, My God, aku yang balik kiri sendiri sehingga membuatku sempat confuse. Belum habis bingungku, tiba-tiba dari arah belakangku terdengar suara menggelegar,

” Hei... ngerti baris nggak!!!”
”Tadikan perintahnya balik kiri” pembelaan kulakukan.
”Kamu ngerti baris nggak!!” pertanyaan itu diulangi.
Nampaknya aku lebih baik diam.
”Atas kesalahanmu mengerjakan instruksi, saya minta kamu berjalan sambil jongkok mengelilingi barisan temanmu,” perintahnya.
Dengan kesal kulakukan perintahnya. Aku pun mulai merangkak dengan menahan kesal. Melihat aku bergerak lambat, kembali suara yang tadi berteriak,
” Hei... lambat kali, kayak itik pulang petang aja... mau kami panggil namamu itik he.”
Belum sempat aku menjawab, suara itu sudah meminta teman-teman kelompok ku berteriak,
” Itik ... itik ....itik....” teman-teman kelompok ku dengan terpaksa mengikuti perintah itu. Aku tahu teman-teman kelompokku terpaksa mengikuti perintah yang tidak mengenakkan itu.
Sejenak kami diberi waktu untuk istirahat, kami diberi kesempatan untuk menikmati makanan ringan yang telah disediakan panitia. Aku memilih duduk di bawah pepohonan sengon yang sejuk. Aku sempat curhat tentang kekesalanku sama Rani,
”Aku malu sekali diteriakin itik, Rian itu galak sekali ya, setelah acara ini selesai aku tidak akan mau menegurnya,” kesalku.
”Tidak baik lho, apalagi Rian ganteng loh,” nasehat dan pujinya.
” Huee huee,” ekspresiku seperti mau muntah mendengar pujian Rani tentang Rian.

Hari kedua...
Acara dimulai dengan penanaman budaya lokal berupa acara berpantun ria.
”Kalian harus ingat dimana bumi dipijak, di situ tanah dikavling he he dijunjung, sengaja pada acara PPS kali, kami meminta kalian menjunjung budaya Melayu dengan acara pantun. Kali ini kalian hanya diminta menjawab pantun teka-teki yang diberikan panitia,” Rian menjelaskan dengan panjang lebar. Dalam hatiku terus berkata,
”...Garing...garing...gariiiinnng....”
Panitia mulai membacakan sebuah pantun teka-teki,”
Orang mengail ikan gela
ma
Bulan terang pagi hari
Kalau tuan bijak laksana
Apa binatang keris di
kaki.”
Temanku Fiky menjawab dengan lantang jawabannya. Giliran berikutnya dibacakan,”
Buah budi bedara meng
kal
Masak sebiji di tepi pan
tai
Hilang budi bicara akal
Buah apa tidak bertang
kai.”
Giliran kali ini jatuh ke Rani. Jawabannya sangat meyakinkan. Kali ini tiba giliranku. Disaksikan beberapa panitia membuatku semakin gugup, apalagi ada Rian yang sok-sok pasang wajah galak. Panitia membacakan pantunnya,”
Kalau tuan bawa keladi
Bawakan juga si pucuk re
bung
Kalau tuan bijak bestari
Binatang apa tanduk di
hidung.”
Aku memeras otakku untuk menjawab pantun teka-teki itu, dengan tidak yakin aku menjawab,
”Bebek,” jawabku.
”Apaa!?” Rian membentakku dan kudengar suara panitia yang lain menertawakan jawabanku.
Kuulangi jawabanku.
”Heii...bebek itu kan saudaranya itik kan?!, yang ada dipikiranmu koq binatang-binatang unggas ya...” kembali Rian mempermalukanku dan didukung dengan tawa oleh panitia yang lain. Aku kembali diberikan hukuman dengan memintaku berjalan mengelilingi peserta seperti bebek.

”Oh My God, bencana apa lagi ini, ternyata bencana yang menimpa diriku tidaklah sehebat bencana gempa bumi, banjir, dan Tsunami,” gerutuku dalam hati. Selama 5 menit yang diberikan aku mengingat-ingat kembali pantun yang pernah kupelajari dalam pelajaran bahasa Indonesia di SMP. Akhirnya selesai juga pantun itu. Aku diminta segera untuk membacakannya,”
Lebat sungguh padi di
paya
Kayu tumbuh tepi pang
kalan
Heran sekali hati saya
Burung terbang disambar
ikan
Jika ke kedai pergi belan
ja
Belikan saya susu dan ke
rupuk
Jika pandai katakan ia
Semakin berisi semakin
menunduk

Sebelum kami pulang, kami dipesankan untuk membawa perlengkapan untuk esok hari, karena lelah dan sedikit mengantuk, aku bertanya pada Rani,
” Besok bawa apa Ran?”
”Rujak,” jawabnya dengan singkat sambil mengingatkanku untuk memperhatikan ketua panitia sedang memberikan instruksi.

”Ran, serius amat sih dengan orang kayak gitu aja diperhatikan,” tanyaku sambil menahan kantuk.
”Tapi menurutku dia selain ganteng juga baik loh,” puji Rani.
”Duh, segitunya makan tuh ganteng, baru kali ini aku ketemu orang nyebelinnya 360 derajat,” sebelku membuat malas untuk memperhatikan ketua panitia bicara lagi. Aku hanya menerawang membayangkan ingin tidur setiba di rumah.

Hari ketiga...
Kami kembali berkumpul kembali di lapangan upacara, acara pertama adalah pengecekan tugas yang harus dibawa. Satu persatu peserta maju ke hadapan panitia. Aku sempat heran karena peserta lain mengumpulkan bermacam-macam buah.

”Koq tidak ada yang membawa rujak ya?” hatiku mulai resah karena barang yang kubawa beda sendiri. Sempat keringat dingin mulai mengalir, apalagi saat tiba giliranku dan Rian memintaku menunjukkan tugas yang harus dibawa. Dengan wajah seperti kepiting rebus aku menyerahkan rujak yang sudah jadi.

”Hei...kamu lagi, siapa suruh bawah rujak?!” bentaknya.
Aku tak berani menjawab, lebih baik diam dan pasrah.
”Tahu tidak instruksi semalam, kalian diminta membawa buah-buahan untuk rujak. Kita akan makan rujak bersama-sama setelah acara ini selesai, tepatnya siang nanti.” ulangnya. Ada rasa sesal bercampur sebel karena semalam tidak mendengarkan perintah dengan jelas.

”Sebagai keteledoran kamu, rujak yang kamu bawa harus kamu makan sekarang juga!!” perintahnya kali ini betul-betul membuatku malu sekali. Satu persatu potongan buah yang telah bercampur menjadi rujak dengan terpaksa kuhabiskan. Setelah hukuman selesai, kembali aku berkumpul bersama teman-teman untuk istirahat sejenak.
”Ran, semalam kamu bilang bawa rujak kan?” tanyaku.
”Iya, makanya perhatikan instruksi baik-baik,” nasehatnya.
”Aku tidak akan memaafkan perbuatannya yang telah mempermalukanku selama tiga hari ini Ran,” sumpahku.

”Tidak baik memutuskan tali persaudaraan, apalagi kita sesama Muslim. Rian itu sholatnya rajin loh,” Rani kembali memuji orang yang sangat menyebalkanku.
”Heran deh, kamu tuh memuji dia aja ya,” heranku.
”Iyalah orang baik koq dibilang jahat,” bela Rani.
Akhirnya acarapun selesai. Basa-basi dengan parade sambutan dan maaf-maafan berlangsung lancar.

Kami pun bubar, masing-masing dari kami menuju tempat parkir untuk menuju kendaraan kami. Aku melihat sepertinya Rani sedang menunggu seseorang, aku menawarkan,
”Bareng aku Ran?” tawarku.
”Terima kasih Tari, abangku sedang menuju ke sini,” ucapnya.
”Oh, jadi kamu punya abang di sini,” heranku.
”Siapa namanya Ran?” tanyaku.
”Namanya mirim-mirip denganku lah,” jawabnya. Sebelum kulanjutkan bertanya tiba-tiba ada suara dari belakangku menyebutkan,” Kenalkan saya Rian Putera Riau, abangnya Rani Puteri Riau.”

”Haa... Rannniiii ....” Aku tak tahu bilang apa lagi. Aku langsung menstater kendaraanku meninggalkan Rani dan Rian. Terbayang kembali ketika aku curhat dan ngomel tentang sikap Rian yang ternyata Rian adalah abangnya Rani. Oh malunya.

*) Penulis adalah bekerja sebagai Guru SMA Cendana PekanbaruRiau
Pantun-pantun yang ada dikutip dari berbagai sumber.

Comments

  1. cerpennya bagus bgt si.....
    lucu lgi,,
    tu crpen pngalaman sndiri y....????????

    ReplyDelete
  2. cerpen nya bagus..
    menarik lagi

    ReplyDelete
  3. cerpennya lucu..hhiihihi...
    aku ampe ktawa2 sndiri bcnya...

    ReplyDelete
  4. lucu,lucu lmyan bs trbbas dr boring...

    ReplyDelete
  5. lucu bgeZzz.....
    bkin org Bca ktawa2 kya org giLa....hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Paling Banyak Dibaca