Skip to main content

Komunitas Paragraf Buka ’’Sekolah Menulis”

marhalim ZainiSejak lama, tak dapat dipungkiri Riau telah mejadi “tanah subur” lahirnya para penulis (sastrawan) yang handal. Karya-karya mereka terus bergaung sampai hari ini.

Mulai dari karya-karya (sastra) klasik, sampai karya-karya yang lahir di zaman modern. Maka tradisi keberaksaraan di Riau sesungguhnya telah menancapkan sejarahnya yang cemerlang dalam dunia sastra (di) Indonesia, bahkan dalam jangkauan yang lebih luas lagi. Namun, kenyataan tersebut boleh jadi akan sekedar menjadi gambaran eksklusif saja, romantisme saja, jika proses estafet untuk membangun regenerasi kepenulisan tak dapat berjalan dengan baik dan sehat.

Sampai hari ini, menurut sastrawan Marhalim Zaini, karya sastra dari tangan penulis Riau memang terus lahir. Akan tetapi kelahirannya belum dapat dikatakan menggembirakan. Terutama pada generasi tahun 2000-an, penulis-penulis baru muncul dengan tersendat-sendat. Bahkan ada yang baru muncul, tiba-tiba raib entah ke mana.


Di media-media sastra lokal macam Riau Pos atau Riau Mandiri juga Majalah Sagang, karya sastra memang terus “diproduksi”. Namun belum menunjukkan capaian-capaian estetika yang memadai dengan hadirnya nama-nama baru. Intensitas kepenulisan para penulis muda ini masih dalam frekuensi yang amat rendah. Apalagi, untuk media nasional, nama-nama penulis baru dari Riau belum juga muncul. Jika dibandingkan dengan daerah lain, maka Riau cukup mencemaskan.

Untuk mempercepat proses lahirnya para penulis baru di Riau, dengan semangat, intensitas, dan produktivitas yang tinggi, maka dirasa sangat penting adanya sebuah ruang “belajar dan berlatih” non-formal yang secara berkala dan intensif menggali potensi-potensi calon penulis muda. Maka Komunitas Paragraf dengan segenap kemampuan yang ada, segera mengambil peran ini dengan membuka sebuah “ruang kecil” bernama “Sekolah Menulis”.

Sekolah Menulis ini dilandasi dengan sejumlah tujuan, di antaranya: (1) Melahirkan generasi baru penulis Riau yang tunak dan berwawasan luas. (2) Menciptakan ruang alternatif dunia pendidikan sekaligus membuat kantong-kantong kebudayaan yang beragam. (3) Memberi fokus yang lebih besar dan mempercepat upaya pengembangan dunia kepenulisan di Riau. (4) Membangkitkan semangat tradisi tulis, dan sekaligus tradisi baca. (5) Meningkatkan mutu karya tulis, sekaligus mutu buku-buku di Riau. (6) Membangun jaringan kepenulisan (di) Riau dengan dunia kepenulisan (di) Indonesia maupun luar Indonesia. (7) Membuka ruang-ruang pengembangan kreativitas bagi bakat dan potensi kepenulisan yang terpendam. (8) Membuka ruang-ruang esktrakurikuler (terutama bagi siswa) yang lebih terarah dan terprogram. (9) Membangun lalu lintas wacana sastra yang lebih dinamis.
“Kami berharap, program ini akan membantu melahirkan sastrawan yang memang memiliki kemampuan, integritas dan keinginan tinggu untuk maju,” jelas Marhalim yang juga Koordinator Komunitas Paragraf ini.

Ditambahkannya, Sekolah Menulis “Paragaraf” bukan sekolah formal, meski tetap menggunakan sejumlah sistematika kurikulum yang terarah untuk memperjelas fokus orientasi dan capaiannya. Waktu belajar dan latihan bisa dijadwalkan pada jam-jam senggang, seperti hari libur, malam hari, atau sore hari, dan diselenggarakan 2 sampai 3 kali pertemuan dalam seminggu. Rentang waktu menyelesaikan sekolah selama 6 sampai 12 bulan, untuk setiap generasi. Namun, jika dianggap perlu untuk mematangkan proses kepenulisan, peserta “sekolah menulis” dapat bergabung dalam berbagai program kepenulisan di Komunitas Paragraf, dan menjadi anggota tetap.

Peserta akan langsung dilatih dan dibimbing para sastrawan/penulis (di) Riau, sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Dan untuk tempat, selain di kelas/ruang yang tersedia, tempat sekolah bisa saja diselenggarakan di rumah-rumah para pengajar (sistem jemput bola), atau di sebuah tempat yang kondusif untuk menunjang proses pembelajarannya. Sebagai bukti telah menyelesaikan sekolah, siswa diwajibkan untuk menciptakan sebuah karya sastra, sesuai dengan pilihan genrenya masing-masing. Karya itu akan (diusahakan) untuk diterbitkan dalam bentuk buku, setelah melalui sejumlah seleksi ‘kelayakan’ dan diberikan sertifikasi (sebagai tanda kelulusan). Sebagai kegiatan penunjang, Komunitas Paragraf akan melibatkan peserta dalam program “Diskusi Sastra Bulanan” dan penerbitan “Majalah Sastra.”

Bagi para calon penulis muda yang ingin bergabung, tanpa dipungut biaya, dengan syarat-syaratnya sebagai berikut: (1) Membawa karya sastra/tulis karangan sendiri (bisa puisi, cerpen, novel, naskah drama, skenario, atau esai budaya) dalam bentuk print-out 1 eksemplar, dan dalam bentuk CD 1 keping. Untuk Puisi minimal 10 judul. Untuk cerpen 2 judul, untuk novel, naskah drama, seknario, masing-masing 1 judul, dan untuk esai 2 judul. (2) Usia minimal 15 s/d 25 tahun (foto copy KTP/SIM/KTM/dll). (3) Membawa pas foto berwarna 2 x 3 sebanyak 2 lembar, 3 x 4, sebanyak 2 lembar. (4) Membawa Curiculum Vitae (biodata). (5) Mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan, dan (6) Mengikuti wawancara.

Setelah dinyatakan lolos seleksi administrasi dan wawancara, bersedia menandatangani sejumlah kesepakatan. Pendaftaran dimulai tanggal 8 sampai 30 Desember 2008, di Galeri Ibrahim Sattah dan/atau Kantor HMJ Teater Akademi Kesenian Melayu Riau, mulai pukul 11.00–16.00 WIB. Pengumuman hasil tes administrasi akan dilakukan via telepon dan melalui pengumuman tertulis di dua tempat pendaftaran tersebut. Tes wawancara dilakukan pada tanggal 10 dan 11 Januari 2009. Kontak person: Marhalim (081371660659), Syarifudin (085278300106). Untuk tahap awal ini, Komunitas Paragraf hanya menerima maksimal 10 (sepuluh) orang calon penulis.(hbk)

Comments

Paling Banyak Dibaca