Skip to main content

Siswa Jangan Suka Bungkam Pelajari Sains

POLA lama pembelajaran ilmu sains mesti diubah, agar mendapatkan prestasi yang maksimal. Kalau pola lama, guru atau para siswa sudah cukup puas dengan hasil jawaban dari soal yang diberikan tampa ada tindak lanjut. Bahkan pola ini menganut sistem hapalan.

Maka pola tersebut harus diubah menjadi pola menganalisis jawaban. Pola seperti ini adalah menganut sistem banyak bertanya dan belajar untuk memecahkan jawaban dari soal sains yang diberikan. Guru atau siswa jangan cepat puas dengan hasil jawaban soal sains, tetapi kemudian jawaban itu harus ditindaklanjuti.

Menurut perwakilan Unicef Wilayah Riau Mansuetus Kapo pada penutupan Pelatihan Guru Matematika Tingkat SD/MI-SMP/MTs kerjasama Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) dengan Unicef, Sabtu (27/9) di Hotel Mona Pekanbaru, kesalahan pola pembelajaran seperti itu sudah terjadi sejak zaman Orde Lama. ‘’Kita dibungkam untuk tidak banyak bertanya, puas dengan hasil yang didapat dan malas untuk menindak lanjuti. Contoh satu tambah satu sama dengan dua. Maka kita cukup puas dengan jawaban itu, tanpa mau tau dari mana hasil dua itu didapat,’’ ungkapnya.

Bukti nyata yang terjadi Indonesia sangat tertinggal jauh pembelajaran ilmu sainsnya jika di bandingkan Singapura. Begitu juga jika di bandingkan Amerika. Pengalaman yang terjadi pelajar atau mahasiswa Indonesia yang belajar di Amerika, semester pertama mereka unggul. Tetapi untuk semester berikutnya tertinggal dan semester berikutnya lagi justru jauh sangat tertinggal.

Mengapa hal ini bisa terjadi, pelajar Indonesia memakai sistem menghapal dan cukup puas dengan hasil jawaban soal. Tetapi mahasiswa Amerika tidak begitu, mereka terus menganalisi pelajaran dan mempelajarinya hingga maksimal. Jadi ketika disodorkan soal sains, mereka dengan mudah memecahkannya, karena telah dinalisis terlebih dahulu.

Sementara itu, Kepala Dinas Dikpora Kuansing Drs H Alwis MSi menekankan guru yang mendapat pembinaan dari Unicef terus mengalami peningkatan kompetensi. ‘’Tetapi harus terus belajar, sehingga ilmu yang diperoleh tidak hilang,’’ ucapnya.(Tari-CCMD/nto)

Comments

Paling Banyak Dibaca