Skip to main content

Mata Sipit Joshua

Menghampiri papa dan mama sambil tersenyum dan mengangkatkan kedua alisnya ke atas, baik saat makan maupun sambil nonton di ruang tengah. Papa dan mama merasa curiga, putra semata wayang yang tersayang yang tidak pernah kelihatan aneh ini sedang jatuh cinta.
“Jangan-jangan, Joshua udah punya pacar kali Pa…?” bisik mama sambil menatap wajah papa yang menampilkan wajah aneh tak biasa.

“Pacar…? Sejak kapan Joshua pintar pacaran, Ma? Lagian, dia gak pernah bawa cewek ke rumah ini.”
“Ih, papa gimana sih? Mana berani anak ingusan itu bawa cewek ke rumah. Atau belum jadian kali…? Masih taksir-taksiran gitu?”


“Emang Mama pikir Joshua masih TK dibilang ingusan?”
“Atau Joshua sengaja merahasiakan ini dari kita Pa…?”
“Gimana kalau kita tanya aja langsung?”
“Siapa takut. Tapi… Papa yang mulai ya?”
Papa dan mama pun mendekati Joshua. Papa yang sempat berdehem membuat Joshua berhenti sebentar memainkan alis dan bola matanya di kursi santai di samping rumahnya.

“Eh… Papa sama Mama makin serasi aja akhir-akhir ini?” Joshua menggoda papa dan Mama sambil lagi-lagi memainkan alis dan bola matanya.
“Jo, kamu kenapa akhir-akhir ini?”
“Maksud Papa?”
“Maksud papamu mata kamu itu Jo?” mama menimpali.
Dengan perasaan yang tersembunyi Joshua mengelak, “Nggak kenapa-kenapa.”

Papa mendekati Joshua dan memegang pundaknya sambil berujar, “Kamu lagi jatuh cinta ya?”
“Jatuh cinta? Nggak tuh. Papa sok tahu deh…” Joshua berlalu meninggalkan papa dan mama berdua di kursi yang menghadap taman mungil yang indah di samping rumah itu.

Di kamarnya, Joshua kembali memainkan alis matanya ke atas dan bola matanya dibesar-besarkannya seperti orang hendak mengancam. Tapi setelah itu muka Joshua berubah jadi murung. Joshua tak memperhatikan kalau papanya sedang mengintip di depan pintu yang sedang separuh terbuka.

Papa menghampiri mama yang sedang duduk gelisah di ruang tengah. “Kayaknya ada yang aneh mam dengan anak kita itu. Coba deh mama lihat sendiri.”
Mama semakin bingung. Dilihatnya Joshua memainkan matanya sendiri tapi habis itu langsung cemberut dan mengacak-acak rambutnya yang ikal. Papa dan mama bukan hanya bingung, tapi juga heran dan takut melihat tingkah Joshua yang aneh itu.

***
Sebelum berangkat sekolah. Di meja makan Joshua mendapati kedua orang tuanya yang saling diam seribu bahasa. Joshua heran dengan pemandangan yang tak biasa ini.

“Pa... Ma… kok diam- diam gitu, ada apa sih…?
Tak ada sahutan. Joshua melahap potongan demi potongan roti dan mengunyahnya perlahan-lahan dengan penuh rasa bersalah.

Tiba-tiba mama terperanjat melihat sobekan-sobekan kecil di sudut mata Joshua.
“Jo… mata kamu kenapa?!!”
Joshua tersentak. Lalu menutupi matanya dengan tangan kirinya sambil senyum-senyum sama papa.
“Nggak kenapa-kenapa kok Ma?”
“Kamu habis berantem ya Jo?” selidik papa. Joshua hanya senyum-senyum. “Berantem apanya? Joshua kan semalam gak ke mana-mana Pa…”
“Itu mata kamu kenapa? Kayaknya kemarin biasa-biasa aja deh…”

“Jangan khawatir berlebihan gitu deh Pa… Ma… Joshua kan bukan anak kecil lagi. Palingan nanti juga sembuh. Pa, Jo berangkat duluan ya…”
“Kamu naik apa Jo?”
Joshua berlari meninggalkan meja makan sambil membawa ranselnya.

“Dijemput teman…….”
Papa dan mama memandangi kepergian Joshua dengan heran. Lalu keduanya saling menatap dan manyun.

***

Sesampainya di kelas, Joshua melakukan hal yang sama dengan yang sering dilakukannya di rumah akhir-akhir ini. Ketika teman-temannya hendak masuk kelas, Joshua tetap menarik-narik alis dan bola matanya, namun sedikit ditutup-tutupi.

Tomi dan Harry adalah teman akrab Joshua. Pagi ini mereka menghampiri Joshua dengan tatapan aneh. Tomi duduk di depan, sedangkan Harry duduk di samping Joshua. Setelah meletakkan ransel mereka yang sengaja mereka beli seragam sebagai tanda friendship, keduanya mendekati Joshua.

Tomi dan Harry menatap Joshua, hingga mereka memperlihatkan mata mereka yang bersinar indah. Pantulan cahaya pagi amat bahagia ketika berada di bola mata keduanya. Joshua telah lama menginginkan mata indah seperti dua sohibnya itu. Mereka memiliki mata yang tak terlihat tidur seperti matanya.
Mata Tomi dan Harry mendapat pujian dari anak satu sekolahan. Baik cewek maupun cowok. “Mata indahnya itu… yang bikin tulang aku lemah…” seru salah seorang cewek.

“Cewek mana coba, yang nolak kalau ditembak sama pemilik mata pelangi itu,” ujar cewek-cewek di sekolah kami.

Itulah yang membuat Joshua iri dan ingin punya mata indah seperti milik Tomi dan Harry.
“Kamu kenapa Jo? Kok melamun gitu? Tomi membuyarkan lamunan Joshua.”

“Eh, mata kamu kenapa Jo? Kok kayak habis kena benda keras gitu?” Harry mendekati Joshua dan mencoba memegangnya.

“Aduh…!” Joshua mendorong tangan Harry yang memegang matanya yang merah. “Kamu tahu kan, kalau itu sakit.”
Joshua adalah orang dengan cirri-ciri fisik, kulit sawo matang, hidung mancung ke dalam, rambut ikal, dan mata sipit yang sering jadi bahan empuk buat objek kaum pengejek di sekolah.

Joshua tiba-tiba lari meninggalkan kelas. Tomi dan Harry bingung dan saling tatap. Tanpa mengulur waktu lebih lama lagi mereka mencoba menghampiri Joshua yang lari tak tentu arah. Dari jauh Joshua tampak marah, sedih campur kecewa. Kerikil-kerikil yang ada didepannya menjadi korban kemarahannya. Joshua menendang-nendang kerikil itu tanpa belas kasihan dengan kakinya.
***
Siang ini Joshua pulang sendirian tanpa ditemani Tomi dan Harry. Tak pula dijemput karena dia berencana pulang malam karena sebelumnya Joshua berencana buat main ke pantai. Pantai itu berjarak dua kilometer dari sekolahnya dan lima kilo meter dari rumahnya. Tapi dia nekat menyusuri jalan ke sana dengan GL (goyang lutut).

Di pinggir pantai itulah lelaki dengan mata sipit itu berdiri sambil menatap laut hingga perbatasannya dengan langit. Dalam birunya laut dan langit itulah ia melamunkan semuanya. Di penghujung harinya yang kelima belas tahun itu ia memikirkan matanya dan hari-harinya yang telah lewat.

Tanpa terasa hari telah larut malam. Joshua membuka pintu depan rumahnya yang entah kenapa tak dikunci tepat jam 12 malam. Namun Joshua heran melihat pemandangan sekitarnya yang tiba-tiba gelap. Dalam- kegelapan ia meraba-raba apa yang bisa dirabanya. Namun benda-benda mati itu seperti enggan disentuhnya. Ia bertiak memanggil-mangil orang tuanya. “Ma… Pa…Mamaa…a… Papaa..aa…” Namun tak ada sahutan. Joshua ketakutan, bulu romanya berdiri dan keringat dingin mulai keluar dari celah-celah kulitnya.

Ketakutannnya semakin terlihat nyata karena suara itu. “Jangan harap dirimu dapat kembali melihat setelah tak kau syukuri nikmat matamu yang sipit itu Joshua.”
Suara itu membuat Joshua ketakutan ia berteriak sekuat-kuatnya. Teriakan itu membuat kedua orang tua Joshua terbangun. Mereka khawatir, dan tanpa mengulur waktu segera menghampiri Joshua. Mereka mendapati Joshua sedang menggigil ketakutan. Ternyata itu hanya mimpi.

Setelah bisa menenangkan diri. Joshua bercerita panjang lebar tentang masalahnya akhir-akhir ini, yang membuat pria itu bertingkah aneh. Joshua juga menceritakan perihal mimpinya.

Semenjak kejadian itu. Joshua tak pernah lagi menyesali dirinya yang terlahir dengan mata sipit. Sekarang Joshua malah bangga karena telah diberi Tuhan mata seperti orang Jepang. Walau ia keturunan Melayu asli. Kini Joshua selalu tersenyum dan memantulkan cahaya-cahaya mungil dari mata sipitnya.***

Irpan Syafrianda adalah siswa kelas X3 SMAN Plus
Provinsi Riau.

Comments

  1. lain kali mbikin cerpen itu yang bagus. Memperbaiki kata2 yg ada di cerpen :

    'Irpan Syafrianda adalah siswa kelas X3 SMAN Plus
    Provinsi Riau.' =

    'Irpan Syafrianda adalah Zulpa'i'

    ReplyDelete
  2. KrEeenn...
    Dr pengalaman pribadi y??

    ReplyDelete

Post a Comment

Paling Banyak Dibaca